Sumut Kini
Iklan Bapenda Provsu

Jejak Darah Mahasiswa UMA di Patumbak: Ketika Persahabatan jadi Pengkhianatan

Medan | Sumut Voice - Pagi yang mestinya biasa di Patumbak berubah menjadi kabar buruk yang mengoyak. Jumat, 14 November 2025, tubuh Bonio Raja Gajah ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Bersimbah darah. Sunyi. Seolah seluruh ruangan menyimpan rahasia yang baru saja terungkap lewat cara paling brutal.

Di ruang itu, luka-luka berbicara. Dan polisi segera tahu: seseorang tak sekadar ingin mencuri—ada niat jahat yang direncanakan.

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, mengingat pagi itu dengan nada yang menurun. 

“Sejak tubuh korban ditemukan, kami langsung turun penuh. Satreskrim Polrestabes Medan dan Unit Reskrim Polsek Patumbak bergerak untuk memecah setiap kepingan petunjuk.”

Setiap jejak dianalisis. Setiap kemungkinan dijelajahi. Dan dari potongan-potongan itulah, satu nama muncul—pelan tapi tegas—mengarah pada seorang pemuda 18 tahun bernama Rasya alias SYA. Teman dekat korban. Orang yang dikenal baik oleh Bonio. Seseorang yang semestinya bisa dipercaya.

Namun kepercayaan kadang menjadi celah paling mematikan.

Dari keterangan awal, polisi menemukan bahwa SYA meninggalkan tempat kejadian tergesa, membawa sepeda motor Honda Vario putih milik korban. Bukan hanya itu—uang dari dompet Bonio menjadi bekal pelariannya.

“Pelaku melarikan diri ke Tanjungbalai. Di sana dia punya keluarga. Uang bensinnya pakai uang korban,” kata Calvijn.

Di Tanjungbalai, SYA mencoba menghapus jejak: linggis, gunting, dan beberapa alat lain yang digunakan untuk menghabisi nyawa Bonio—semuanya dibuang. Ia berharap barang-barang itu tenggelam bersama bukti yang mengarah kepadanya.

Yang ia tidak tahu, polisi sudah berada di jalur yang sama. Membelah jalanan dalam kejar-kejaran diam yang dimulai sejak mayat ditemukan.

Dikejar di Dua Kota, Ditangkap di Tempat yang Tak Terduga

Ketika rombongan pertama polisi hampir menyentuh lokasi persembunyian, SYA panik. Melihat gerakan-seragam polisi, ia kembali kabur—kali ini ke arah Medan. Ironinya, ia tak kembali ke tempat lain, melainkan ke rumah korban. Ke titik awal tragedi itu.

Namun ia tak tahu bahwa satu tim lain sudah menunggu. Diam. Menghitung detik. Menyusun tangkapan.

“Tim kedua sudah berjaga di Medan dan berhasil menangkap tersangka ketika hendak kembali ke rumah korban,” ujar Calvijn.

Perburuan dua kota itu berakhir pada Sabtu malam, 15 November 2025. Hanya selang satu hari dari tewasnya Bonio.

Tak ada motif yang tampak mulia dari balik pembunuhan itu. Tidak ada dendam. Tidak ada konflik panjang. Yang tersisa hanya sebuah alasan yang terasa menyakitkan karena terlalu sepele: uang cicilan motor.

"Motifnya, tersangka memiliki tanggung jawab cicilan motor, sehingga ia memilih melakukan pembunuhan dan pencurian,” terang Calvijn.

Persahabatan yang mestinya menjadi tempat berlabuh, berubah menjadi panggung pengkhianatan. Sebuah nyawa diambil demi menutup cicilan. Demi rupiah yang tak sebanding dengan manusia yang dikorbankan.

Di ruang duka itu, yang tersisa hanyalah keluarga yang kehilangan, tembok yang masih menyimpan noda tragedi, dan kota yang kembali menghela napas panjang. Bahwa kejahatan kadang datang dari orang yang paling kita percaya.

Bahwa pengkhianatan sering kali tak datang dari musuh—melainkan dari teman yang sedang putus harapan.

Latest News
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image