
Medan | Sumut Voice - Suasana duka menyelimuti depan gedung kamar jenazah, di RSUP H Adam Malik Medan, Jumat (17/7/2026) malam.
Sejumlah orang sibuk hilir mudik, berjalan kaki, sambil menatap telepon genggam.
Beberapa diantaranya, ada yang sibuk berbicara melalui telepon selulernya.
Sebagian lagi ada yang duduk lesehan di depan mobil jenazah parkir dan tepat di teras ruangan.
Lemas dan tak bersemangat, wajah mereka tampak sembab habis menangis.
Di seberang kamar jenazah, sejumlah pegawai Jasa Raharja sibuk mengumpulkan data.
Salah satunya Roma Sitinjak (21), wanita yang mengenakan kaus dan celana berwarna hitam tampak mondar-mandir di depan kamar jenazah.
Tubuhnya lunglai, matanya tampak sembab dan memerah, habis menangis.
Wanita bertubuh tinggi ramping ini kehilangan kedua orangtua yaitu ayah, Heppi Sitinjak 60 tahun, ibunya Dinaria Manik 60 tahun, serta saudara sepupunya Samsir Sitinjak 30 tahun.
Lalu, 3 anggota keluarga lain mengalami luka yaitu Five Sitinjak 11 tahun (adik), Gabe Roida Sitinjak, perempuan 18 tahun (adik) dan Rinto Sitinjak, 23 tahun (Abang).
Roma mengatakan, enam anggota keluarganya menjadi korban kecelakaan beruntun maut yang terjadi pagi tadi.
Tiga orang meninggal dunia dan tiga orang lainnya mengalami luka.
Ia menceritakan, awalnya mendapat kabar ada kecelakaan maut dari rekan satu kerjaan di Hill Park, sekira pukul 11:00 WIB karena ia juga bekerja disitu dan saat kejadian ia sedang libur.
Namun informasi itu tidak terlalu ia pikirkan dan ia kembali beraktivitas seperti biasa.
"Saya dapat informasi kecelakaan dari kawan, dia bilang, Roma tadi ada kecelakaan loh disini. parah sekali," kata Roma Sitinjak, di RS Adam Malik Medan, Jumat (17/7/2026).
Beberapa saat kemudian, ia melihat postingan rekan lain yang mengunggah video peristiwa kecelakaan begitu parah.
Dalam video, Roma melihat Pebrianto Siburian, sopir mobil yang ditumpangi 6 anggota keluarganya dari Sidikalang ke Kota Medan.
Seketika jantungnya mendadak berhenti, lalu berdegup kencang gak karuan karena di dalam mobil ada kedua orangtua, abang, adik dan juga sepupu.
Dengan perasaan khawatir, Roma menghubungi keluarga lain untuk memastikan kondisi rombongan keluarganya.
Kemudian, Raden, abang kandung Roma yang tinggal serumah di Kecamatan Namorambe bergerak ke Sibolangit.
Disinilah baru diketahui, ternyata keluarga mereka turut menjadi korban kecelakaan beruntun.
"Rupanya yang dapat informasi si Gabe dan si Five sudah dilarikan ke rumah sakit. Bang Raden bilang mamak dan bapak sudah gak ada di sini,"katanya.
Satu Keluarga Korban Kecelakaan di Sibolangit, hendak Antar Adik Merantau Kuliah ke Jambi
Hari Jumat (17/7), ia sengaja libur bekerja karena ingin ikut rombongan orangtua, Abang, adik dari Kota Sidikalang ke loket bus Rapi mengantar adiknya bernama Gabe Roida Sitinjak (18) yang akan kuliah ke Provinsi Jambi.
Selama ini Roma tinggal di Kecamatan Namorambe sehingga rute perjalanan rombongan keluarga akan singgah dulu menjemputnya.
Satu jam sebelum kejadian, sekira pukul 09:00 WIB Roma sempat menghubungi mereka yang sedang dalam perjalanan lewat video call.
Bahkan, saat itu Roma masih melihat senyum kedua orangtuanya yang bangga mau mengantar adiknya kuliah ke Universitas Jambi.
"Jam 9 masih teleponan sama si Gabe. Masih bercanda sama bapak, waktu mereka di perjalanan dalam mobil,"kenangnya.
"Bapak dan mamak mau mengantar adik mau kuliah ke Jambi karena dia baru lulus, mau kuliah. Tapi mereka mau diantar ke bus Rapi, sebelum ke Jambi,"ungkapnya.
Rencananya, jenazah Heppi Sitinjak, 60 tahun, ibunya Dinaria Manik 60 tahun, serta saudara sepupunya Samsir Sitinjak, 30 tahun, akan dibawa ke Desa Bakal Julu, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, Kabupaten Dairi.
"Iya. Mau dimakamkan di kampung," katanya. (rel/tribun)