GUr0TUY8BSW7TfOlTpAlGSC5BA==

Sopir Tangki Bongkar Sisi Gelap Pertamina: Pasokan Sengaja Dijatah Demi Dongkrak Penjualan Pertamax!

Medan | Sumut Voice – Dugaan mencengangkan menyelimuti polemik kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar di Kota Medan dan sekitarnya. 

Kelangkaan yang memicu antrean panjang tersebut disinyalir kuat merupakan "permainan" dari pihak internal Pertamina sendiri, bukan karena krisis pengemudi seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Fakta mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh salah seorang Awak Mobil Tangki (AMT) atau sopir tangki PT Pertamina yang enggan disebutkan identitasnya kepada awak media, Rabu (15/7).

Bantah Krisis Sopir: Perbantuan TNI-Polri Dinilai Janggal

Sang sopir mengaku bingung dengan langkah taktis Penjabat Gubernur Sumut yang sampai mengerahkan bantuan pengemudi dari TNI-Polri hingga mendatangkan AMT dari Provinsi Aceh. Menurutnya, tidak ada masalah pemogokan kerja maupun kekurangan personel di lapangan.

"AMT ready semua ya. Nggak ada itu yang katanya mogok kerja. Bahkan sampai perbantuan dari Aceh sana dipanggil kemari. Sampai sini pun bukan kerja, duduk-duduk di kantin aja kadang," ungkapnya seperti dikutip dari Tribun Medan.

Kebijakan Pembatasan Pasokan ke SPBU

Ia membeberkan bahwa stok BBM di depot sebenarnya sangat melimpah dan ratusan armada mobil tangki siap beroperasi penuh. Namun, pasokan sengaja dipangkas secara drastis oleh manajemen berdasarkan kebijakan internal.

"SPBU minta BBM Pertalite 24 ribu liter, tapi dikirim 8 ribu liter. Dijatah sama Pertamina. Ibaratnya kalau kelen mau minyak, kelen beli BBM Pertamax. Jadi Pertamax dibeli masyarakat mau nggak mau, walaupun mahal. Ini permainan semenjak kepemimpinan seorang pria berinisial T. Tahun lalu nggak pernah gitu," bebernya.

Strategi membatasi pasokan Pertalite dan Solar ini diduga kuat sebagai trik marketing jahat untuk memaksa konsumen beralih ke produk nonsubsidi (Pertamax) yang harganya jauh lebih mahal demi meraup keuntungan berlipat.

Gurita Mafia Solar Industri Lewat "Pelangsir"

Selain persoalan Pertalite, sopir tangki tersebut menyoroti maraknya antrean kendaraan mewah yang diduga menjadi kaki tangan mafia Solar industri. Karena ketatnya pengawasan terhadap AMT saat ini, para mafia beralih memanfaatkan modus mobil pelangsir untuk menguras Solar subsidi di SPBU.

"Mafia-mafia minyak ini, AMT tak berani lagi untuk siong (kencing di jalan). Jadi dari mana mafia dapat minyak? Ya dari pelangsir. Mobil-mobil mewah seperti Pajero Sport itu dibuat untuk mengisi Solar full. Setiap mobil dikasih satu barcode, diisi full," jelasnya. Solar subsidi tersebut kemudian ditampung dan dijual ke pihak industri dengan harga selangit mencapai Rp15.000 per liter.

Kecurangan Oknum SPBU dan Intimidasi Karyawan

Sisi gelap lain yang diungkap adalah praktik kecurangan di tingkat pembongkaran SPBU. Oknum petugas bongkar sering kali sengaja mengurangi volume muatan BBM saat proses pengisian ke tangki pendam SPBU, lalu melemparkan kesalahan kepada sopir tangki setelah penjualan selesai.

Kondisi internal kerja di lingkungan Pertamina juga disebutnya sangat intimidatif. Selain adanya disparitas atau ketimpangan gaji antar-sesama pekerja dengan beban kerja yang sama, manajemen dinilai tidak segan-segan menjatuhkan sanksi sepihak bagi karyawan yang vokal.

"Kalau kita protes, kita diblokir. Enggak bisa bekerja lagi. Gaji nanti bisa dipotong. Jahat sekali bosnya," keluhnya pasrah.

Sopir tangki tersebut berharap aparat penegak hukum serta Satgas Migas pusat dapat turun tangan guna mengusut tuntas gurita praktik curang ini, mulai dari hulu kebijakan internal Pertamina hingga ke hilir pelaksanaan di tingkat SPBU.

Type above and press Enter to search.