
Medan | Sumut Voice - The Grand Old Man atau orang tua besar, begitu julukan KH Agus Salim, salah seorang pejuang Kemerdekaan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Agus Salim dikenal sebagai seorang politikus, jurnalis, dan diplomat yang cerdas serta menguasai banyak bahasa asing.
Semasa hidupnya, Pria kelahiran Koto Gadang, Sumatera Barat ini sering ditugaskan untuk menjadi delegasi dalam beberapa acara internasional.
Di balik perannya yang besar dalam perjuangan diplomasi Indonesia, terdapat sejumlah kisah menarik yang menunjukkan kecerdasan Agus Salim dalam menghadapi situasi sulit. Salah satunya terjadi ketika ia mengikuti Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, pada 1949.
Di dalam ruangan tempat acara itu berlangsung, asap rokok Agus Salim memenuhi ruangan sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap karena baunya itu berasal dari racikan cengkeh, tembakau dan lada dalam rokok kretek tersebut.
Karena aroma yang menyengat tersebut, delegasi dari Belanda menghampiri dan menegur Agus Salim yang sedang asik menghisap rokoknya.
"Apa Tuan tidak punya rasa hormat?" tanya delegasi Belanda.
Pria berjanggut panjang itu merespon dengan senyuman seraya menghembuskan asap rokoknya dan menjawab,
"Apa yang Tuan maksud dengan rasa hormat?".
"Asap dan aromanya sangat menyengat dan menganggu kita semua," kata delegasi Belanda.
"Apakah Tuan tahu, aroma yang menyengat itu berasal dari tembakau Deli, cengkeh Sulawesi dan lada Lampung. Ketiga komoditas itulah yang membuat alasan Tuan beserta balatentara Tuan datang ke negeri kami dan menjajah kami, tanpa komoditas tersebut, apakah Tuan masih mau datang ke negeri kami?" ucap Agus Salim dengan kejeniusan dan ketenangan diplomasinya.
"Ya tapi ini tempat terhormat dan di tempat ini dilarang merokok," jawab delegasi Belanda.
"Kami memang tak pandai menciptakan tempat bagi orang terhormat, tetapi kami mampu beramah-tamah selama ratusan tahun dengan orang yang menjarah negeri kami. Apakah itu kurang cukup untuk mengajarkan Tuan tentang rasa malu?" jawab Agus Salim.
Kemudian Agus Salim menghadap ke semua orang yang menatapnya,
"Setuju dan akui sajalah kedaulatan negeri kami, maka Tuan-tuan sekalian tidak akan pernah bertemu dengan orang seperti saya lagi, dan tempat ini tidak lagi tercemar oleh aroma rokok yang menyengat," tegasnya.
Delegasi yang semula melayangkan protes tidak dapat membalas pernyataan Agus Salim. Sejumlah peserta bahkan disebut tertawa mendengar respons cerdas tersebut.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana Agus Salim mampu menyampaikan kritik terhadap kolonialisme Belanda tanpa harus memicu ketegangan.
Dengan kecerdasan dan humor, ia berhasil membalik keadaan sekaligus menegaskan posisi Indonesia yang tengah memperjuangkan pengakuan kedaulatan.
Agus Salim memang dikenal sebagai sosok dengan kemampuan retorika luar biasa. Selain menguasai banyak bahasa asing, ia juga piawai menggunakan sindiran halus yang sarat makna dalam berbagai kesempatan diplomatik. (**)