
Medan | Sumut Voice - Sebelum fajar menyingsing, seorang ayah diam-diam menyelipkan sepucuk surat di bawah pintu sebuah warung di Mojokerto. Surat itu bukan berisi ancaman ataupun keluhan. Isinya hanya permohonan maaf, pengakuan dosa, dan jeritan seorang ayah yang putus asa karena tak mampu membayar biaya sekolah anaknya.
Pria itu berinisial EPB (35). Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada Minggu (7/6) sekitar 12.30 WIB, ia tertangkap mencuri enam bungkus rokok dan uang Rp352.000 dari toko milik Alfin Setyo Tunggal (37) di Dusun Guwo, Desa Jabontegal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.
Saat tertangkap tangan, EPB menangis dan memohon ampun. Melihat pelaku yang terus menunduk sambil terisak, Alfin luluh dan memilih melepaskannya tanpa syarat.
Namun, setelah pelaku mengembalikan rokok curian dan pergi, keluarga Alfin mendapati uang hasil penjualan di laci toko juga raib. Merasa dikhianati, Alfin sempat mencari pelaku hingga ke wilayah Krembung, Sidoarjo. Usahanya sia-sia. Malam itu juga ia melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
Keesokan harinya, sebuah surat tulisan tangan ditemukan terselip di bawah pintu warung.
Dalam surat yang ditulis dengan tinta sederhana itu, EPB mengakui seluruh perbuatannya. Ia mengaku nekat mencuri karena terdesak kebutuhan hidup dan biaya sekolah anaknya yang terancam tidak bisa mengikuti perkuliahan jika tunggakan semester tidak segera dibayar.
"Bapak/Ibu, saya minta maaf. Saya kepepet butuh uang. Cari pinjaman tidak ada. Kalau tidak dibayar, anak saya tidak bisa ikut ujian sekolah..."
Namun permintaan maaf itu tidak berhenti di atas secarik kertas.
Pada hari kedua, pacarnya, YN (34), datang bersama putri kecil mereka yang masih duduk di bangku kelas 2 SD. Di tangannya terdapat surat permintaan maaf kedua dan uang Rp120.000 sebagai cicilan pengembalian.
Hari berikutnya, pasangan itu kembali datang. Namun mereka gagal bertemu karena Alfin sedang bekerja hingga larut malam.
Mereka tidak menyerah. Hingga akhirnya pada Kamis sore, EPB datang lagi. Kali ini ia membawa dua anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Di hadapan Alfin dan istrinya, pria itu menundukkan kepala. Dengan suara lirih ia meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat.
Ia bercerita tentang hidupnya yang berantakan. Tentang perceraian yang membuatnya harus membesarkan anak-anak dengan bantuan sang ibu yang kini sedang sakit. Tentang pekerjaan yang tak menentu. Dan tentang tekanan ekonomi yang membuatnya mengambil keputusan paling buruk dalam hidupnya.
Air mata nyaris tak terbendung. Alfin yang semula menjadi korban perlahan berubah menjadi pendengar. Ia melihat bukan hanya seorang pencuri di hadapannya, melainkan seorang ayah yang sedang tenggelam dalam kesulitan hidup.
Pada pertemuan itu, EPB kembali menyerahkan uang Rp200.000.
Melihat pria itu datang bersama dua anaknya dengan berjalan kaki dari terminal, hati Alfin semakin tersentuh. Bahkan setelah pertemuan selesai, ia mengantar EPB dan kedua anaknya ke halte bus agar mereka tidak perlu berjalan jauh.
Total uang yang telah dikembalikan mencapai Rp320.000. Jumlah itu memang belum menutupi seluruh kerugian. Namun bagi Alfin, yang lebih berharga adalah niat baik yang ditunjukkan pelaku.
"Sebenarnya kalau tidak dikembalikan pun tidak apa-apa. Yang saya lihat ada iktikad baiknya," ujarnya.
Pada akhirnya, dua orang yang sebelumnya dipisahkan oleh sebuah tindak pencurian dipertemukan oleh rasa kemanusiaan.
Alfin memilih memaafkan. Bukan karena ia melupakan kesalahan yang terjadi, melainkan karena ia pernah merasakan bagaimana beratnya hidup saat ekonomi sedang terpuruk.
"Menurut hati nurani saya, dia memang benar-benar sedang membutuhkan. Saya juga pernah berada dalam kondisi sulit," katanya.
Di tengah kerasnya kehidupan, kisah ini menjadi pengingat bahwa terkadang sebuah kesalahan lahir dari keputusasaan. Dan terkadang pula, pengampunan mampu membuka jalan yang tak bisa dibuka oleh hukuman semata.
Dan warga biasa ternyata lebih memiliki hati nurani dibanding mereka yang memanfaatkan jabatan demi keuntungan pribadi.